Ini “Matematika” Allah! Koin Receh Jadi Dua Ekor Hewan Qurban

DTPEDULI.ORG | SUKABUMI - “Man jadda wa jadaa. Bismillah, Umi bertekad qurban setiap tahun!” ucap Neneng Sri mantap saat ditemui pada Kamis (29/4/2026).
Tekad itu tidak datang begitu saja. Selama 18 tahun pernikahan Neneng, qurban bersama pasangan hidupya belum sempat terwujud. Hingga kepergian sang suami menguatkan azamnya untuk konsisten berqurban.

“Kalau dihitung, Umi nggak mampu, tapi Allah memampukan yang mau.” tuturnya mantap.
Uang Receh Jadi Hewan Qurban
Sejak pukul 6 pagi hari, ia memulai aktivitasnya sebagai pengajar Al-Qur’an. Di sekolah, ia membimbing tahsin dan tahfizh para siswa. Siang hari melanjutkan mengajar para orang tua murid. Sore membimbing warga sekitar rumah. Selepas maghrib kembali menghidupkan majelis Al-Qur’an di masjid.
Di tengah padatnya pengabdian itu, ada satu tekad yang terus ia jaga dengan sungguh-sungguh: berqurban setiap tahun, meski uangnya belum terkumpul saat ini.
Tekad itu benar-benar diuji ketika menjelang Iduladha. Ia mendengar bahwa panitia masjid masih membutuhkan satu hewan qurban. Di rumah, ia hanya memiliki uang receh hasil dari warung kecilnya. Setelah dihitung, jumlahnya sekitar sembilan ratus ribu rupiah—jauh dari cukup. Namun uang itu tetap ia serahkan sebagai uang muka.
Di dalam hatinya sempat terlintas kegelisahan, “dari mana melunasinya?”
Ia memilih terus melangkah dengan keimanan.
Apa yang terjadi setelahnya menjadi pengalaman yang tak ia lupakan. Qurban terlaksana, dan tak lama kemudian Allah menghadirkan rezeki yang tidak disangka-sangka. Kekurangan itu pun dapat ia lunasi.
“Alhamdulillah, setelah qurban, ada saja jalan hingga lunas,” katanya singkat, namun penuh keyakinan.
“Matematika” Allah
Sejak saat itu, ia tidak pernah berhenti melanjutkan tekadnya. Ia mulai menyisihkan uang recehnya sedikit demi sedikit secara konsisten. Proses yang tampak sederhana itu perlahan membuahkan hasil. Tahun ini, melalui DT Peduli, tabungan yang ia kumpulkan justru cukup untuk dua ekor kambing. Ia pun memutuskan berqurban satu untuk keluarganya, dan satu lagi untuk orang lain yang ia rasa layak mendapatkannya.
Bagi Umi Neneng, qurban itu wujud keyakinan yang utuh kepada Allah. Ia percaya bahwa dalam urusan ibadah, tidak seharusnya seseorang merasa kekurangan.
“Kalau untuk di jalan Allah, jangan punya mental miskin,” ujarnya tegas.

Enam anak yang ia besarkan, Allah cukupkan kebutuhannya melalui berbagai jalan, bahkan pendidikan mereka ditunjang oleh beasiswa. Ia sendiri pernah diundang ke Tanah Suci tanpa mengeluarkan uang sama sekali. Seluruh kebutuhannya tercukupi dengan cara Allah yang tidak terduga.
Melalui perjalanan panjang itu, Umi Neneng memandang hidup dengan cara yang berbeda. Ia melihat bahwa banyak orang hari ini terjebak dalam ukuran dunia, hingga kehilangan rasa syukur dan keberanian untuk beramal. Karena itu, ia mengajak siapa pun yang merasa belum mampu untuk tidak menunda ketaatan.
“Mastatha’tum: kerahkan semua kemampuan yang kita punya. Setelah itu, minta pertolongan Allah,” pesannya mengakhiri pertemuan sore itu.
Baca juga: Jalan “Pulang” Abah
Penulis: Faiha Athiyah Azhim
Penyunting: Agus ID
Penilaian Pembaca
Berita Lainnya
DT Peduli Tasikmalaya Hadiri Rapat Koordinasi Mitigasi Bencana Karhutla di Gedung Wakil Bupati TasikmalayaDTPEDULI.ORG | TASIKMALAYA - Sebagai bentuk komitmen dalam memperkuat sinergi penanggulangan bencana, Daarut Tauhiid (DT) Peduli Tasikmalaya menghadiri Rapat…
Ringankan Beban Penyintas Kebakaran Ciptamulya, DT Peduli Salurkan Paket Bantuan dan Buka Pos HangatDTPEDULI.ORG | SUKABUMI – DT Peduli menyalurkan paket bantuan dan membuka Pos Hangat untuk penyintas musibah kebakaran yang melanda kawasan adat…
Meriahkan Bulan Muharram, DT Peduli Surabaya Bersama dr. Niko Gelar Khitan Gratis untuk Anak DhuafaDTPEDULI.ORG | SURABAYA - Dalam rangka memeriahkan Bulan Muharram 1448 Hijriah, DT Peduli bekerja sama dengan Praktik Umum dr. Niko menggelar Program Khitan…